Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label KAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAYA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Kaya Karena Merek

Kaya Karena Merek

Oleh : HandiIrawan D CEO-FrontierConsulting Group @HandiirawanD

Berapa jumlah perusahaan yang pernah melakukan pengukuran nilai merek yang dimilikinya? Atau, pernahkah Anda sendiri menghitung nilai merek yang Anda kelola? Saya yakin, tidak banyak perusahaan atau para pelaku bisnis yang pernah melakukannya. Perusahaan baru mulai menghitung nilai mereknya saat ingin menjual perusahaan, membeli perusahaan, atau melakukan merger dengan perusahaan lain.

Karena ada uang yang akan dibayar bila membeli atau mendapatkan uang bila menjual, pemilik perusahaan kemudian baru mulai menghitung dengan cermat berapakah nilai sebuah merek dan nilai ini biasa dimasukkan dalam good will. Ini sudah menggambarkan bahwa kesadaran akan pentingnya merek baru timbul secara kuat saat perusahaan melakukan penilaian terhadap aset-asetnya.

Bila demikian, seharusnya CEO, CMO, dan CFO berpikir bahwa perusahaan atau merek ini suatu saat akan dijual. Inilah cara yang efektif agar shareholder, BOD, dan seluruh jajaran tim pemasaran memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya sebuah merek. Kalau sebuah merek kemudian memiliki nilai ratusan miliar atau triliun, saya yakin, seluruh tim perusahaan yang bertanggung jawab terhadap kekuatan sebuah merek akan lebih mudah mencerna visi, misi, dan strategi pengembangan merek. Bagian R&D akan menciptakan produk yang semakin inovatif. Bagian produksi akan menciptakan produk yang berkualitas dan marketer akan mengomunikasikan mereknya menjadi merek yang top (top brand).

Bila merek demikian berharga, bagaimanakah kita menghitung nilai sebuah merek? Jawabannya ternyata tidak sederhana. Inilah alasan utama banyak perusahaan tidak menghitung nilai merek. Mereka tidak memahami cara menghitung nilai merek. Sebelum saya membahas bagaimana kita menghitung nilai sebuah merek, kita lihat lebih dahulu kedudukan merekdan intangible asset yang lain dari sebuah perusahaan.

Merek Sebagai Intangible Asset

Pada akhir tahun 2012, bursa saham Jakarta ditutup dengan indeks yang menunjukkan bahwa rasio P/BV sebesar 2.66. Artinya, kapitalisasi pasar di bursa Indonesia adalah sebesar total nilai buku perusahaan dan nilai intangible asset-nya 1.66 kali. Dengan demikian, rata-rata harga saham (P) adalah 2.66 kali dari rata-rata harga saham menurut nilai buku. Intangible asset ini lebih besar dibanding dengan tangible asset. Bahkan di tahun 2010, saat investor sangat percaya dengan kondisi ekonomi di Indonesia, nilai P/BV mencapai 4.03.

Intangible asset terutama bila dilihat dari perspektif marketing, biasanya bersumber pada empat hal. Pertama adalah merek atau yang biasa disebut dengan brand equity. Yang kedua adalah pelanggan dan biasa dikenal dengan nama customer equity. Sumber ketiga dari intangible asset adalah rights atau hak eksklusif. Misal, perusahaan ditunjuk menjadi distributor utama atau perusahaan mendapatkan perlakuan khusus sehingga pasarnya terlindungi. Sumber keempat dari intangible asset adalah patent atau intangible asset yang berhubungan dengan keunggulan teknologi.

Dari keempat intangible asset ini, manakah yang memberikan nilai terbesar? Tentunya sangat tergantung dari jenis industri dan juga perusahaannya. Untuk industri consumer goods, sumber intangible asset yang terbesar biasanya dari merek. Ini bisa memberikan kontribusi lebih dari 50% dari total intangible asset-nya. Perusahaan seperti Unilever, Wings, Mayora, dan Indofood sangat menggantungkan kekuatan merek untuk membangun nilai perusahaan. Bagi perusahaan ini, mengubah nama merek akan menghilangkan kemampuan perusahaan untuk menjual.

Industri seperti perbankan dan otomotif memiliki nilai intangible asset yang berasal dari brand equity dan customer equity yang cukup berimbang. Perusahaan pembiayaan dan asuransi lebih banyak bertumpu pada customer equity. Bagi perusahaan ini, loyalitas pelanggan adalah hal yang sangat penting. Merek produk atau nama perusahaan bisa saja berganti dan hal ini tetap membuat perusahaan mampu bertahan.

Menghitung Nilai Merek

Secara umum terdapat lima cara menghitung merek yang dianggap paling populer. Cara pertama adalah menggunakan replacement method. Cara ini juga sering disebut dengan cost approach. Ini adalah cara yang kualitatif dan sering kali menggantungkan penilaian dari para expert atau orang-orang yang sangat mengerti industri dan merek.

Secara sederhana, valuasi didasarkan atas penilaian kualitatif. Berapakah jumlah uang yang dibutuhkan untuk membuat merek menjadi seperti merek yang akan dinilai? Berapa bujet promosi dan biaya-biaya lain yang dibutuhkan untuk membuat sebuah merek dari sama sekali tidak terkenal menjadi merek yang akan dinilai? Walau sederhana, kenyataannya inilah cara yang paling sering digunakan oleh para investor yang akan membeli perusahaan atau membeli sebuah merek.

Cara kedua adalah market approach. Inilah metode dimana harga sebuah merek dilihat dari transaksi yang sudah pernah ada sebagai benchmarking. Jadi, bila ada sebuah merek yang sudah berhasildijual atau dibeli, maka kemudian harga inimenjadidasar untuk mengukur harga sebuah merek yang masih masuk dalam industri yang sama. Tapi, problem terbesar di Indonesia adalah jumlah transaksinya yang tidak banyak. Bahkan bila terjadi transaksipun, besarannya tidak diumumkan secara terbuka.

Cara ketiga, keempat, dan kelima termasuk dalam metode valuasi yang disebut dengan income approach karena memang didasarkan pada nilai penjualan atau profitabilitas perusahaan. Metode ketiga dalam valuasi merek disebut dengan price premium method. Metode ini berasumsi bahwa merek yang kuat akan mampu membuat sebuah merek mendapatkan harga premium dibandingkan merek yang tidak terkenal. Menurut hemat saya, inilah cara praktis yang paling mudah dilakukan dan dengan akurasi yang cukup baik. Pada dasarnya, marketer yang mau melihat nilai mereknya dapat melakukan sebuah riset pasar. Pertanyaan utama darisurveiiniadalah selisih harga yang mau dibayar oleh konsumen dibandingkan dengan merek yang tidakterkenal.

Survei bisa dilakukan dengan responden antara 200 hingga 1.000 responden, tergantung heterogenitas dari target pasarnya. Setelah mendapatkan nilai selisih harga, kemudian dikalikan dengan volume unit yang dapat dijual oleh merek tersebut. Bagian tersulit adalah menentukan berapa tahun merek tersebut dapat bertahan. Apabila loyalitas konsumen terhadap merek tersebut tinggi, maka jumlah tahun akan semakin panjang pula.

Sebagai gambaran, bila loyalitas konsumen mencapai 90%, maka jumlah tahun sebagai pengali dari merek tersebut bisa mencapai 10 tahun. Misalnya, didapatkan bahwa merek yang dinilai dapat bertahan sekitar 10 tahun, maka kemudian dibuatkan nilai present value dari seluruh harga x volume per tahun dan dibuat cash flow selama 10 tahun. Nilai present value inilah yang menjadi harga atau valuasi dari merek tersebut.

Cara keempat adalah income split method. Inilah cara yang paling kompleks dan biasanya perlu menggunakan perhitungan berdasarkan data-data keuangan baik dimasa lalu dan dimasa mendatang. Intinya adalah bahwa laba perusahaan setiap tahun sebagian berasal dari kekuatan merek. Jadi, kita perlu menentukan porsi dari laba yang dihasilkan merek tersebut. Atau dengan kata lain, kita perlu menghitung besarnya laba perusahaan bila merek tidak terkenal. Selisih dari laba inilah yang kemudian dianggap menjadi nilai merek tersebut. Nilai selisih ini, seperti metode ketiga, perlu dikalikan dengan jumlah tahun merek tersebut mampu bertahan.

Cara kelima adalah royalty relief method. Ini biasanya diaplikasikan untuk merek-merek yang bisa di-franchise atau lisensi. Hasil dari lisensi inilah yang menjadi valuasi dari merek. Atau bisa juga, perusahaan berasumsi bahwa perusahaan tidak memiliki merek. Berapakah yang mau perusahaan bayar setiap tahunnya bila kemudian perusahaan mengambil lisensi merek tersebut yang sebenarnya milik sendiri? Sekali lagi, seperti cara ketiga dan keempat, maka perlu dikalikan jumlah tahun merek tersebut dapat dilisensikan.

Setelah mengetahui berbagai metode valuasi ini, cobalah untuk menghitung nilai merek Anda. Ini akan menjadi sebuah inspirasi yang besar untuk menggerakkan marketer dan seluruh perusahaan menjadi brand-centric company. Bagi yang memiliki merek Top Brand, tiba-tiba Anda akan sadar, betapa kayanya pundi-pundi keuangan Anda suatu hari akan terisi karena kekuatan merek. Banyak orang kaya karena merek dan bukan karena laba yang mereka hasilkan setiap tahun.

Source: http://www.frontier.co.id/kaya-karena-merek.html


Jumat, 24 Januari 2014

Kejarlah Akhiratmu Maka Dunia akan Ikut

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka ALLOH akan memberikan kekayaan pada hatinya dan ALLOH akan memudahkan segala urusannya di dunia serta dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk dan hina.
Dan barangsiapa menjadikan dunia menjadi tujuan utamanya, maka ALLOH akan jadikan kemiskinan terpampang di matanya, dan ALLOH akan jadikan segala urusannya berantakan, dan ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa-apa yang sudah dituliskan baginya". (Silsilah shohihah: 949).

Orang bijak berkata: siapa menanam padi (akhirat) maka akan tumbuh rumput (dunia), tapi siapa menanam rumput mk tdk akan tumbuh padi. Jadilah bagian orang yg cerdas.

Salam Perubahan,

Bayu Prasetyo
Follow: @MotivaBisnis
Blog: http://SragenBerjamaah.blogspot.com
Twitter@SragenBerjamaah


Senin, 08 Oktober 2012

Memulai dari Titik Terendah

Sepintas ketika kita melihat orang yang sudah sukses terlihat tampak lebih nikmat. Kehidupan yang lebih indah karena keuangan yang mencukupi dan hamper tidak kekurangan sesuatu apapun. Belum lagi kehidupan mereka dilengkapi dengan suasana keluarga yang sangat tentram.
Tentu saja keadaan seperti itu menjadi sebuah keadaan yang sangat diinginkan bagi siapa saja. Keadaan yang sangat ideal dimana hamper tidak ada kekurangan.

Minggu, 23 September 2012

Ingin Sukses dan Kaya?

Sudah sering kita mendengar atau membaca dari orang lain, entah dari Seminar, Buku, dsb mengenai Sukses dan Kaya.

Bagaimana menuju tangga kesuksesan?
Bagaimanakah Orang itu bisa Kaya, apa bisnisnya, apa pekerjaannya, dsb???

Menurut Kamus Bahasa Indonesia sesuai EYD, Kaya: [a] (1) mempunyai banyak harta (uang dsb): baginya tua muda, besar kecil, -- miskin semuanya sama; (2) mempunyai banyak (mengandung banyak dsb): -- akan hasil bumi; (3) ki (ber)kuasa: Tuhan Yang Maha (Source: Kamus Bahasa Indonesia)

Selasa, 12 Juni 2012

Kunci Sukses Pak Ciputra

Kesuksesan adalah dambaan setiap orang tetapi hanya segelintir yang mampu mencapainya. Dan Dr. (HC) Ir. Ciputra bisa dikatakan adalah salah satu sosok yang mampu meraih kesuksesan. Kesuksesannya itu dirintis sejak 5 dekade yang lalu, tepatnya tahun 1961. Pak Ci, demikian entrepreneur ini sering disapa, pertama menapakkan kaki di dunia entrepreneurship dengan menjalani bisnis bersama teman-temannya dalam Grup Jaya.

Di awal perkembangannya, Grup Jaya masih sebuah perusahaan kecil dengan aset yang belum seberapa besar. Para eksekutifnya  pun masih bergaya hidup sederhana. Bahkan Pak Ci, sebagai seorang profesional, kala itu tidak segan untuk memakai sepasang kaos kaki yang bolong saat meninjau rumah-rumah real estate yang dibangun Grup Jaya. Namun, berkat keteguhan dalam memegang prinsip entrepreneurship semua profesional muda itu tetap bekerja dengan kemapanan finansial yang belum stabil dan gaya hidup yang relatif sederhana.

Senin, 28 Mei 2012

Merancang atau Mendesign Mindset KAYA

Selamat Pagi Sahabatku semua,
Selamat Menikmati hari yang indah,

Salam Dahsyat untuk semua,

Sebelumnya saya sudah membagikan #MindsetKAYA melalui akun twitter saya: @MotivaBisnis dan kali ini saya akan membagikan kepada sahabatku Pembaca Blog saya ini.

Rancang atau Design-lah #MindsetKAYA dalam Pikiran anda sebagai berikut: